Order Ambien Online Legally Ambien Online Shopping Can I Really Buy Ambien Online Ambien Mexico Online Zolpidem Paypal

Semangat Bandung dalam Sorotan Internasional Film Festival Rotterdam 2025

Semangat Bandung dalam Sorotan Internasional Film Festival Rotterdam 2025

Ketika Olaf Möller (Komite Seleksi IFFR) memberi pengantar dalam pemutaran kedua Bachtiar (2024) di bioskop Cinerama, dia mengatakan bahwa ketika Stefan Borsos (Komite Seleksi IFFR) sedang mendiskusikan tentang 70 Tahun Konferensi Asia Afrika bersama Yuki Aditya (Forum Lenteng dan Juri Tiger Award IFFR 2025), dan akan memutarkan film Turang (sutradara Bachtiar Siagian, 1957), mereka juga ditawari film tentang Bachtiar itu sendiri. Dan Olaf menemukan film Bachtiar, “semacam cara yang menarik untuk membicarakan seorang sineas, dan benar-benar mengekskavasinya.” Pemutaran film Bachtiar ini merupakan salah satu dari program Bandung Conference yang menjadi salah satu fokus Internasional Film Festival Rotterdam 2025 dalam merayakan 70 tahun Konferensi Asia Afrika, pertemuan yang banyak mempengaruhi wacana dan gerakan global pada 1950-an.

Untuk membicarakan bagaimana warisan 70 tahun Konferensi Asia Afrika, IFFR membingkainya dalam Program Focus: Bandung Conference yang menghadirkan pemutaran film Turang, Bachtiar, diskusi Tiger Talk: Through Cinema We Shall Rise, dan Pro Dialogue: The Spirit of Bandung – Co-Productions and Film Festivals as Catalysts for Collaboration. Selain program fokus tersebut, film-film dari Indonesia lainnya juga turut meramaikan penyelenggaraan ke 54 IFFR dalam berbagai program, yaitu Till Death Do Us Part (Upi, 2024), Gowok: Javanese Kamasutra (Hanung Bramantyo, 2025), Whisper in the Dabbas (Garin Nugroho, 2025), Midnight in Bali (Razka Robby Ertanto, 2025), Shaping the Future (Putu Kusuma Wijaya, 2025), dan sebuah program yang fokus membahas karya Timoteus Anggawan Kusno. Film dan pembahasan tentang Indonesia cukup mendominasi IFFR, tampak sekali keinginan IFFR untuk membahas sejarah dan karya-karya dari Indonesia tahun ini.

Turang merupakan salah satu film karya Bachtiar Siagian yang pernah menjadi Film Terbaik pada penyelenggaraan FFI 1960, diputarkan dalam penyelenggaraan Afro-Asia Film Festival di Kairo 1960, dan beredar di negara-negara komunis di Eropa Timur pada 1960-an tersebut. Setelah arus balik sejarah 1965, banyak film-film karya seniman yang berafiliasi dengan komunisme diberangus, termasuk Turang, sehingga film ini sempat hilang. Film ini ditemukan kembali di Gosfilmfond, lembaga arsip film Rusia, oleh kerja jejaring Bunga Siagian dan Forum Lenteng yang sedang mencari film ini dalam rangka produksi film Bachtiar semenjak 2021. Turang membingkai perjuangan tentara rakyat di wilayah Karo, Sumatera Utara, untuk melawan Belanda dan menekankan kerja sama antara rakyat dan militan-militan. Dalam pengantar pemutaran dan diskusi setelah pemutaran film Turang, Bunga Siagian selalu menegaskan bahwa film ini berbeda dengan film lain yang menceritakan seputar perjuangan nasional. Sementara film-film lain itu menekankan perspektif tentara dan lembaga nasional dalam perjuangan melawan kolonial, Turang justru menyorot kehidupan sehari-hari, tradisi, dan solidaritas antar warga.

Bachtiar Siagian, sutradara Turang, “terdengar sayup-sayup dalam sejarah sinema Indonesia,” mengutip ujaran narator dalam film Bachtiar. Ia juga merupakan salah satu juri dalam penyelenggaraan Afro-Asia Film Festival di Jakarta 1964, sekaligus sebagai ketua panitia acara itu. Bachtiar dianggap sebagai eksponen sinema kiri Indonesia pada 1950-an yang penting, biasanya dihadap-hadapkan dengan Usmar Ismail, bapak perfilman Indonesia. Akan tetapi, karya Bachtiar yang bisa dilacak hingga hari ini sangat terbatas, selain Turang, ada Violleta (1962) yang ditemukan di Sinematek Indonesia. Film Bachtiar yang disutradarai oleh Hafiz Rancajale, berusaha menelusuri sosok dan pemikiran Bachtiar, melalui arsip, catatan pribadi, surat, dan orang-orang yang mengenal beliau.

Setelah 70 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, yang memicu banyak pertemuan setelahnya dengan membawa Semangat Bandung, baik itu di kalangan mahasiswa, wartawan, di bidang film, sastra, dll, semangat itu seakan “direbut” oleh warga non-elit untuk menggalang solidaritas global. Akan tetapi, setelah tangan gurita pemenang Perang Dingin menghancurkan progresivitas dunia Selatan, Semangat Bandung dan solidaritas global ini sempat senyap dan mulai digali kembali belakangan yang disebut sebagai Selatan Global. Di ranah sinema, praktik-praktik yang mungkin dan sedang dilakukan oleh beberapa organisasi dan jaringan sinema dengan kesadaran solidaritas Selatan Global ini berupaya dibicarakan dalam dua sesi diskusi, yaitu Tiger Talk: Through Cinema We Shall Rise, dan Pro Dialogue: The Spirit of Bandung – Co-Productions and Film Festivals as Catalysts for Collaboration.

Diskusi Through Cinema We Shall Rise dipandu oleh Elena Razlogova (peneliti, Montreal) dengan pembicara, Bunga Siagian (kurator, Jakarta), Enoka Ayemba (kurator, Kamerun), Ahmed Refaat Bahgat (kurator, Kairo), dan Ali Khamraev (sineas, Uzbekistan). Bunga menyorot orang-orang yang menyelenggarakan Afro-Asia Film Festival 1964 di Jakarta merupakan sineas-sineas kiri, termasuk ayahnya, Bachtiar, dan bagaimana ia menemukan film Turang dengan bantuan teman-teman di berbagai negara. Ahmed menceritakan semangat Bandung yang dibawa kembali pasca-KAA di Mesir memicu banyak kegiatan film, dan Ayemba juga membicarakan hal yang sama dengan konteks di negaranya. Sementara itu, Ali Khamraev, yang pernah menghadiri Afro-Asian Film Festival 1958 di Tashkent, mengingat kembali bagaimana festival dan pembicaraan yang terjadi waktu itu.

Dalam diskusi The Spirit of Bandung – Co-Productions and Film Festivals as Catalyst for Collaboration cenderung membahas bagaimana kemungkinan kerja sama dan solidaritas global hari ini melalui produksi film dan festival film. Diskusi ini juga dimoderatori oleh Elena Razlogova, dengan pembicara Adi Osman (Forum Lenteng, Indonesia), Garin Nugroho (sineas, Indonesia), Giasuddin Selim (sineas, Bangladesh), dan Rina Damayanti (JFW, Indonesia). Adi memaparkan tentang Arkipel – Jakarta Internasional Documentary and Experimental Film Festival yang dalam setiap gelarannya membahas persoalan global dan menggalang diskusi dan kerja sama global, dan beberapa kegiatan Forum Lenteng lainnya. Rina Damayanti menjelaskan tentang Jakarta Film Week yang berupaya menumbuhkan kosmopolitanisme penonton dan sineas pemula di Indonesia. Sementara, Garin dan Giasuddin membahas persoalan-persoalan seputar pendanaan produksi film dan model-model kerja sama dalam produksi film.

Tahun
2025

Lokasi
Rotterdam, Belanda

X